Update Informasi Teknologi Terkini

Rabu, 18 Agustus 2018 Oleh : Tirto.id

Masa Depan Dunia di Tangan AI

Robot Asimo menggunakan sensor dan algoritma kecerdasan buatan untuk menuruni tangga dan menghindari rintangan. [Foto/wikipedia]

tirto.id - "AI apa ya? Saya tidak tahu," cetus Bergita Paskalina Pricelia Lejo, (26), seorang karyawan sebuah perusahaan multinasional yang bergerak dalam industri makanan ketika ditanya oleh Tirto.id mengenai apa itu Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Namun, ketika mendengarkan nama Siri disebut, ia menjawab, "Kalau itu saya tahu. Itu seperti otak Apple begitu kan? Yang membuat fungsi telepon seluler bekerja. Sistem cerdasnya Apple [yang] menjalankan fungsi untuk telepon, SMS, kemudian menggerakkan aplikasi-aplikasi yang khusus untuk Apple."

Hal yang sedikit berbeda diungkapkan oleh Yosefin Candra Pranadewi, (26). Wanita yang bekerja sebagai konsultan sumber daya manusia di Jakarta itu menyebut AI sebagai entitas yang nantinya akan mengolah Big Data. "Cuma kita biasanya lebih kenal bentuknya pada hal-hal yang robotik seperti itu," jelas Yosefin.

Ia pun mengamini jika AI sudah hadir dalam kehidupan keseharian manusia, dan oleh karenanya manusia sangat terbantu dalam keseharian mereka. "Hal-hal yang mempermudah hidup kita itu bagian dari [AI]. Peralatan elektronik yang kita pakai juga bagian dari itu. [...] bahkan search engine yang kita pakai juga bagian dari [AI],” sebut Yosefin.

"Sejujurnya, yang saya tahu, AI itu bentuk yang sangat canggihnya adalah robot. Hahaha."

Apa yang diungkapkan oleh dua wanita tersebut boleh jadi merupakan representasi dari gambaran generasi milenial – yang sesungguhnya cukup akrab dengan teknologi – akan masih asingnya istilah AI dalam kehidupan mereka. Maka dapat dibayangkan pula, bagaimana butanya generasi sebelumnya akan teknologi yang digadang-gadang akan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia di masa depan ini.

Lantas apakah AI itu sendiri? Yang jelas, baik Bergita maupun Yosefin tidak sepenuhnya salah. Menurut BBC, sederhananya AI merupakan "mesin" yang mampu melakukan berbagai hal yang dipandang membutuhkan kecerdasan ketika manusia melakukannya, seperti memahami bahasa manusia secara natural, mengenali wajah dalam foto, mengemudikan kendaraan, atau menerka buku apa yang kita mungkin sukai berdasarkan buku-buku yang telah kita baca sebelumnya.

Berbeda dengan robot pabrik yang terus menerus melakukan hal yang berulang seperti mengemas suatu produk, AI membuka kemungkinan untuk menyelesaikan suatu tugas setelah melakukan pembelajaran lewat proses trial and error.

AI sudah banyak beredar dalam kehidupan keseharian manusia. Google Assistant yang dapat ditemui pada smartphone Pixel, atau Siri pada ekosistem perangkat keras Apple, dan Cortana pada sistem operasi Windows mungkin bisa merepresentasikan hal itu. Dan jika lebih jeli lagi, AI yang lebih sederhana sesungguhnya dapat kita temukan pada kalkulator, atau ketika memproses sejumlah data menggunakan Microsoft Excel.

Saat ini, dengan segala keterbatasan teknologi manusia, AI hanya baru bisa berkembang pada tahapan pengolahan data, termasuk Big Data, untuk kemudian melakukan tugas tertentu seperti yang dilakukan oleh Siri, Cortana, dan Google Assistant. AI model ini disebut dengan narrow AI (atau weak AI), yakni AI yang hanya dapat melakukan tugas-tugas yang terbatas.

Namun demikian, teknologi ini tidak berhenti di sini. Ilmuwan tersebut berupaya untuk mengembangkan AI hingga ke sebuah model yang disebut dengan general AI (AGI atau strong AI). Sebuah model di mana AI dapat belajar dan beradaptasi untuk kemudian melakukan hampir setiap tantangan ataupun tugas yang membutuhkan kecerdasan manusia.

Centre For Study of Existential Risk University of Cambridge menuliskan dalam laman resminya, meski saat ini general AI belum mampu diciptakan, banyak peneliti memprediksi AI dengan tingkat kecerdasan manusia itu mampu terwujud di masa depan yang tidak terlalu fana. Mereka memprediksi hal itu akan terwujud dalam tempo 300 tahun hingga dalam tempo 15 tahun, dengan sebagian besar prediksi tersebut jatuh pada tempo 70 tahun.

  • Robot
  • AI
  • Teknologi Terbaru
  • Klien

    Mari bekerja dan tumbuh bersama Quantum Leap

    Mulai Proyek Bersama